VIRAL! BPS Ungkap Fakta Tak Terduga Terkait Impor Beras di Indonesia

Uncategorized421 Views

“Impor Beras Indonesia pada Januari-Juli 2023 Mencapai 1,33 Juta Ton, Mayoritas adalah Semi Milled or Wholly Milled Rice dengan Porsi 87,43%”

Sebagaimana tertera dalam paparan tersebut, pada periode Januari-Juli 2023, Indonesia mengimpor sejumlah 1,33 juta ton beras. Impor ini didominasi oleh jenis beras semi milled or wholly milled rice yang mencakup porsi sebanyak 87,43%.

Keputusan pemerintah untuk mengimpor beras konsumsi melalui Perum Bulog dilakukan dalam rangka mengisi cadangan beras pemerintah (CBP) yang terus berkurang sejak akhir kuartal tahun 2022. Sementara itu, harga beras telah mengalami kenaikan sejak Agustus 2022 dan bahkan mencapai lonjakan signifikan dalam satu bulan terakhir, seringkali mencetak rekor tertinggi.

Pada akhir tahun 2022, Perum Bulog diberi tugas untuk mengimpor 500 ribu ton beras, dan proses pengadaannya berlanjut hingga awal tahun 2023. Selanjutnya, pada Maret 2023, pemerintah kembali memerintahkan Perum Bulog untuk mengimpor 2 juta ton beras. Hingga saat ini, proses impor masih berlangsung.

Baca Juga:  VIRAL! Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah Turunkan Inflasi Sulut ke Terendah se-Indonesia

Menurut Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Epi Sulandari, dari total kuota impor yang diberikan, sisanya yang dijadwalkan akan masuk dalam periode 1 September hingga 31 Desember 2023 adalah sebanyak 453 ribu ton.

Berikut adalah perkembangan pengadaan beras impor oleh Perum Bulog pada tahun 2023 per tanggal 9 September (berdasarkan paparan Epi Sulandri):

  • Impor (kuota 2 juta ton)

1) Realisasi bongkar:
Tahap I: 502.798 ton
Tahap II: 298.387 ton
Tahap III: 138.054 ton

2) Sedang dalam proses bongkar:
Tahap III: 55.352 ton

3) Rencana kedatangan:
Dalam perjalanan: 31.140 ton (Tahap III)

Proses muat: 13.700 ton (Tahap III)
12.300 ton (Tahap IV)

Proses packing: 27.650 ton (Tahap III)
87.200 ton (Tahap IV).

Epi mengungkapkan, “Impor pada Tahap I dan II telah selesai dengan total realisasi mencapai 801.185 ton.” Dia juga menjelaskan bahwa Perum Bulog tidak dapat melakukan kontrak impor dalam jumlah besar karena hal ini terkait dengan harga beras dan kesediaan produsen untuk menjual ke Indonesia.