Perubahan Arus Bawah Jokowi menjadi Arus Bawah Persada tidak dapat dilepaskan dari figur yang memimpinnya, Michael Umbas, seorang operator politik yang kariernya sejak awal berkelindan dengan orbit kekuasaan nasional, khususnya di sekitar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Umbas bukan nama baru dalam ekosistem politik Jokowi. Ia termasuk generasi penggerak relawan yang tumbuh sejak Pilpres 2014, ketika PDIP mengusung Joko Widodo sebagai kandidat presiden. Pada fase itu, relawan menjadi perpanjangan tangan narasi PDIP di luar struktur partai menggalang dukungan yang lebih cair, lintas komunitas, dan tidak terikat disiplin organisasi formal. Umbas berada di simpul jaringan tersebut, membangun relawan Arus Bawah sebagai kanal mobilisasi opini dan basis sosial.
Relasi Umbas dengan PDIP tidak selalu berbentuk posisi struktural partai, melainkan kedekatan fungsional: ia beroperasi sebagai komunikator dan konsultan dalam pemenangan figur-figur yang diusung PDIP, termasuk dalam kontestasi di Sulawesi Utara dan Pilpres nasional.
Dalam politik modern, tipe aktor seperti ini lazim disebut party adjacent operator tidak menjadi kader inti, tetapi berada dalam lingkar pengaruh strategis partai.
Karier Umbas juga memperlihatkan konsistensi kedekatan itu. Ia pernah menjadi konsultan pemenangan pasangan kepala daerah PDIP di Sulawesi Utara, terlibat dalam relawan nasional Jokowi, dan kemudian masuk dalam struktur relawan yang lebih formal pada Pilpres berikutnya.
Bahkan pada fase politik terbaru, ia tetap berada di barisan pendukung kandidat yang memperoleh restu Jokowi dan dukungan sebagian elite PDIP. Garis kontinuitasnya jelas: Jokowi–PDIP–relawan.
Di sinilah transformasi Arus Bawah menjadi Arus Bawah Persada mendapat konteks politik yang lebih terang. Pergantian nama tampak seperti pelepasan dari personalisasi Jokowi, tetapi jejaring dan memori politiknya tetap berakar pada ekosistem PDIP.
Persada dapat dibaca sebagai upaya menjaga keberlanjutan jaringan relawan yang sejak awal dibangun dalam orbit partai tersebut, sembari membuka ruang adaptasi pada konfigurasi kekuasaan baru pasca-Jokowi.
Namun hubungan relawan–partai selalu mengandung ambiguitas. Relawan ingin dipandang sebagai gerakan sipil independen, sementara partai melihatnya sebagai aset mobilisasi di luar struktur resmi.
Umbas berada tepat di wilayah abu-abu itu: cukup dekat dengan PDIP untuk memiliki akses dan legitimasi, tetapi cukup di luar untuk mempertahankan citra relawan akar rumput.
Transformasi menjadi Arus Bawah Persada bisa dibaca sebagai konsolidasi posisi tersebut. Ia memberi Umbas dan jejaringnya identitas yang tidak lagi tergantung pada satu figur presiden, tetapi tetap kompatibel dengan garis politik PDIP.
Dalam logika kekuasaan, ini adalah langkah rasional: mempertahankan kapital relawan sekaligus menjaga kanal komunikasi dengan partai utama pengusung Jokowi.
Pertanyaannya kembali pada publik: apakah Arus Bawah Persada akan berkembang menjadi gerakan sipil yang otonom, atau tetap berfungsi sebagai satelit sosial PDIP? Jawabannya mungkin tidak hitam-putih.
Dalam politik Indonesia, banyak organisasi relawan justru bertahan karena berada di antara tidak sepenuhnya partai, tidak sepenuhnya masyarakat sipil.
Michael Umbas memahami ruang antara itu. Dan justru di sanalah Arus Bawah Persada kini berdiri: di persimpangan relawan dan partai, antara arus bawah dan arus kekuasaan.(HutK)










