TIDAR Sulut yang Tertinggal: Ketika Organisasi Didukung Penuh, Tetapi Minim Gerak

Berita, Politik1130 Views

Di tengah dinamika organisasi pemuda politik di Sulawesi Utara, kontras terlihat jelas antara Banteng Muda Indonesia (BMI) Sulut dan Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Sulut.

Jika BMI terus menunjukkan denyut kegiatan yang konsisten, TIDAR Sulut justru dinilai miskin program dan terkesan “tertidur”, meski mendapat dukungan penuh dari Partai Gerindra.

Sebagai pengamat lapangan, catatan ini adalah opini berbasis pengamatan publik: TIDAR Sulut belum mampu mengonversi sokongan struktural partai menjadi agenda kepemudaan yang berkelanjutan.

Dukungan politik yang besar semestinya berbanding lurus dengan kreativitas programnamun yang tampak justru stagnasi.

Kepemimpinan yang Kehilangan Arah Program

Sorotan utama tertuju pada kepemimpinan Tommy Parasan, Ketua TIDAR Sulut.

Di bawah komandonya, organisasi dinilai minim terobosan, jarang menghadirkan kegiatan rutin yang menyentuh basis pemuda, dan kurang menawarkan agenda yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Akibatnya, TIDAR Sulut kehilangan momentum dan daya tarik di kalangan generasi muda.

Bandingkan dengan BMI Sulut yang secara konsisten hadir melalui kaderisasi akar rumput, kegiatan sosial, dan konsolidasi yang rapi. Konsistensi bukan sekadar dukungan elite menjadi pembeda utama.

Baca Juga:  VIRAL! Indonesia Memerlukan Generasi Unggulan yang Berasal dari Pesantren

Didukung Partai, Tapi Tidak Bergerak

Ironisnya, TIDAR Sulut berada di bawah payung partai besar dengan akses sumber daya dan jejaring nasional. Namun tanpa program konkret, keunggulan struktural itu tidak bermakna.

Organisasi pemuda bukan etalase simbolik; ia menuntut kerja lapangan, gagasan segar, dan keberlanjutan.

Pelajaran dari BMI Sulut

Keunggulan BMI Sulut terletak pada mesin organisasi yang hidup: kepemimpinan kolektif, agenda berjenjang, dan kehadiran nyata di masyarakat. Di Sulut, publik cenderung menilai dari apa yang dikerjakan, bukan dari siapa yang mendukung.

Catatan Penutup

Kritik ini bukan untuk menafikan potensi TIDAR Sulut, melainkan peringatan keras.

Jika kepemimpinan tidak segera melakukan evaluasi dan menghadirkan program yang relevan, TIDAR Sulut akan terus tertinggal.

Dalam politik pemuda, dukungan tanpa kerja hanya menghasilkan sunyi sementara konsistensi seperti yang ditunjukkan BMI Sulut akan selalu menemukan panggungnya.

(Michael S. Rumangkang – Pengamat Politik)