Gelombang tekanan publik terhadap Universitas Negeri Manado (UNIMA) terus membesar. Tidak hanya mahasiswa, masyarakat luas dan warganet Sulawesi Utara kini secara terbuka mendesak pihak kampus untuk bertanggung jawab dan bersikap tegas atas kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan seorang oknum pejabat akademik di lingkungan Fakultas Teknik.
Di berbagai platform media sosial, tagar dan unggahan bernada kritik bermunculan. Warganet mempertanyakan sikap kampus yang dinilai terlalu lama diam, meskipun laporan korban telah masuk secara resmi dan satuan tugas internal kampus disebut sudah menyusun rekomendasi sanksi.
“Kalau rekomendasi sudah ada tapi tidak dieksekusi, UNIMA sedang melindungi siapa?” tulis salah satu akun warganet yang unggahannya dibagikan ratusan kali.
Tekanan Publik Meluas dari Kampus ke Media Sosial
Desakan tanggung jawab ini tak lagi terbatas pada lingkaran mahasiswa. Tokoh masyarakat, pegiat pendidikan, hingga aktivis perlindungan perempuan di Sulawesi Utara ikut menyuarakan kritik. Mereka menilai diamnya pimpinan universitas justru memperparah krisis kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan negeri.
Publik menuntut kejelasan:
apakah UNIMA benar-benar menjalankan prinsip kampus aman, atau justru membiarkan relasi kuasa akademik menutup jalan keadilan bagi korban.
Dinilai Gagal Tunjukkan Kepemimpinan
Masyarakat menilai keterlambatan pengambilan keputusan bukan lagi soal prosedur administratif, melainkan kegagalan kepemimpinan dan tanggung jawab institusional. UNIMA, sebagai perguruan tinggi negeri, dipandang memiliki kewajiban moral dan hukum untuk memastikan lingkungan kampus bebas dari kekerasan seksual.
“Ini bukan aib yang bisa disapu di bawah karpet. Ini soal nyawa, mental, dan masa depan mahasiswa,” ujar salah satu aktivis perempuan di Manado.
Netizen Minta Transparansi, Bukan Alasan Normatif
Warganet juga mengkritik alasan kampus yang dinilai terlalu normatif dan tertutup. Mereka menegaskan bahwa transparansi tidak berarti membuka identitas korban, melainkan menjelaskan secara terbuka status penanganan kasus dan keputusan yang diambil.
Ketertutupan kampus justru memicu spekulasi liar dan memperkuat anggapan bahwa UNIMA lebih sibuk menjaga citra institusi dibanding melindungi korban.
UNIMA di Bawah Sorotan Publik
Kasus ini kini menjadi sorotan publik Sulawesi Utara. Tekanan masyarakat dan netizen diperkirakan akan terus meningkat selama UNIMA belum memberikan pernyataan dan langkah konkret yang jelas.
Publik menunggu satu sikap tegas dari kampus:
bertanggung jawab, menegakkan sanksi, dan membuktikan bahwa tidak ada jabatan akademik yang kebal hukum.
Jika tidak, suara warganet dan masyarakat menegaskan satu pesan keras: kepercayaan terhadap UNIMA akan terus runtuh di hadapan publik.






