Sulawesi Utara berdiri di atas tanah kaya, tetapi masyarakatnya terlalu sering hidup dalam kekurangan.
Ini bukan paradoks alam ini paradoks tata kelola. Ketika emas digali dari perut bumi oleh tambang resmi maupun liar, yang tertinggal di permukaan bukan kesejahteraan, melainkan lubang-lubang kerusakan, sungai tercemar, dan desa yang semakin rapuh secara ekonomi.
Tambang resmi sering berbicara tentang investasi dan pertumbuhan, tetapi jejaknya di lapangan tidak jarang menghadirkan konflik ruang hidup, degradasi lingkungan, dan ketimpangan manfaat.
Tambang liar lebih brutal lagi merusak tanpa reklamasi, menghasilkan uang cepat tanpa tanggung jawab sosial, dan beroperasi di wilayah abu-abu penegakan hukum.
Negara seperti kehilangan gigi: tahu, tetapi tak mampu atau tak mau menggigit.
Namun kerusakan ekologis hanyalah satu sisi cerita. Sisi lainnya adalah manusia yang tertinggal.
Di tengah wilayah yang menghasilkan emas, sebagian warga justru tidak memiliki pekerjaan layak.
Tidak sedikit yang akhirnya memilih merantau dalam kondisi rentan bahkan sampai terjebak dalam kekerasan dan konflik di luar negeri demi bertahan hidup.
Ini bukan pilihan bebas; ini keterpaksaan ekonomi. Ini adalah tanda bahwa kekayaan sumber daya gagal diterjemahkan menjadi kesempatan hidup di rumah sendiri.
Yang membuat situasi semakin ironis adalah kontras sosial yang telanjang.
Uang hasil tambang liar yang diperoleh dengan risiko keselamatan, kerusakan alam, dan sering tanpa pajak kerap mengalir ke pola konsumsi yang demonstratif: pesta, hiburan malam, dan saweran besar-besaran.
Pernah mencuat kisah seorang figur hiburan menerima saweran hampir satu miliar rupiah hanya dari dua kali tampil di Manado. Bagi sebagian orang itu hiburan biasa.
Namun bagi masyarakat yang melihat anak-anak mudanya pergi ke luar negeri karena tak punya pekerjaan, pemandangan itu adalah simbol kegagalan distribusi kesejahteraan.
Masalahnya bukan pada hiburannya.
Masalahnya adalah mentalitas ekonomi ekstraktif: uang datang cepat, dibelanjakan cepat, tanpa investasi sosial jangka panjang. Tidak ada penguatan pendidikan, tidak ada diversifikasi usaha, tidak ada fondasi ekonomi berkelanjutan hanya siklus euforia sesaat.
Inilah wajah klasik “kutukan sumber daya”:
- Alam dieksploitasi tanpa kendali
- Negara lemah menata dan mengawasi
- Masyarakat miskin tetap terpinggirkan
- Sebagian kecil menikmati kemewahan instan
Jika situasi ini dibiarkan, Sulawesi Utara tidak sedang membangun masa depan ia sedang menggadaikannya.
Setiap bukit yang runtuh, setiap sungai yang tercemar, dan setiap pemuda yang pergi karena tak punya pilihan adalah bukti bahwa emas tidak otomatis membawa kemakmuran.
Pertanyaan mendasarnya sederhana namun menyakitkan:
Untuk siapa sebenarnya emas itu digali?
Sampai ada keberanian memperbaiki tata kelola, menindak tambang ilegal secara nyata, dan memastikan kekayaan alam menciptakan pekerjaan bermartabat, cerita ini akan terus berulang tanahnya habis, manusianya pergi, dan uangnya lenyap dalam semalam.
Emas bisa memperkaya daerah.
Tetapi tanpa keadilan dan akal sehat, ia hanya mempercepat kehancuran.






