Pekan lalu, Malaysia menuduh bahwa polusi udara di wilayah mereka disebabkan oleh kebakaran hutan di Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Namun, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, Siti Nurbaya, membantah tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa tidak ada kabut asap yang melintasi perbatasan.
Pada Senin (2/10), Departemen Lingkungan Malaysia mengumumkan bahwa badan meteorologi regional telah menemukan hampir 250 titik panas (hotspots) yang mengindikasikan adanya kebakaran di pulau Sumatra dan sebagian wilayah Borneo, tetapi tidak satu pun di Malaysia.
Pemerintah Malaysia juga telah mengambil tindakan untuk mengatasi situasi kabut asap yang semakin parah di beberapa wilayahnya. Otoritas setempat bersiap untuk menutup sekolah-sekolah dan berencana melakukan penyemaian awan untuk menciptakan hujan buatan ketika kualitas udara semakin memburuk.
Direktur Jenderal Departemen Lingkungan Malaysia, Wan Abdul Latiff Wan Jaffar, menyatakan bahwa sekolah-sekolah dan taman kanak-kanak harus menghentikan semua aktivitas di luar ruangan saat indeks Polusi Udara (API) mencapai angka 100. Selanjutnya, jika API mencapai angka 200, sekolah-sekolah akan ditutup sementara atau memberikan libur.
Sementara itu, upaya untuk membersihkan udara dengan menyebarkan awan dan langkah-langkah lainnya untuk mengatasi polusi udara akan dimulai ketika indeks API mencapai angka 150 selama lebih dari 24 jam.












