Toilet di pasar ini sangat buruk, bau tak sedap karena kotoran tidak dibuang dengan baik. Seorang ahli tata kota dari Sulut, Dr. Eng. Ir. Pingkan Peggy Egam MT IPM, mengatakan bahwa dari segi estetika, pasar seringkali menjadi tempat yang kumuh dan tidak tertata dengan baik, yang bisa menciptakan kesan visual yang tidak menyenangkan. Selain itu, keberadaan pasar juga dapat menghasilkan aroma yang tidak enak karena masalah saluran air dan utilitas yang buruk.
Dari segi sosial, keberadaan pasar seringkali membawa dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar pasar.
Menurutnya, pemerintah perlu campur tangan dalam hal penataan fisik pasar sehingga pasar bisa memiliki fungsi wisata yang menarik karena tampilan yang bagus. Namun, hal ini tidak mudah dan memerlukan kerjasama antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat.
Selain memperbaiki bangunan dan area jualan, pasar juga perlu dilengkapi dengan fasilitas lain, termasuk transportasi umum. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah kurangnya aksesibilitas ke pasar karena kurangnya transportasi umum.
Kasus yang dijelaskan adalah mengenai Pasar Restorasi di Kayu Bulan, yang terletak jauh dari pemukiman dan tidak memiliki jalur transportasi umum yang melintasinya. Pasar ini tampaknya telah kehilangan daya tarik dan aktivitas jual beli karena minimnya pembeli, sehingga banyak pedagang yang meninggalkan pasar tersebut.






